Showing posts with label story. Show all posts
Showing posts with label story. Show all posts

May 05, 2015

Balita Tercantik di Dunia


asmi.asia - Pasti pernah dong melihat artis-artis cantik di televisi? Pasti udah biasa bukan? Karena kita tahu semakin dewasa seseorang, maka kemampuan rias nya akan semakin mahir sehingga dapat membuat dirinya cantik kapanpun yang diinginkan. Namun bagaimana kalo ceritanya malah balita yang cantik?

Namanya adalah Liu Chu Tian. Artis dan model cilik  sedang naik daun saat ini hingga diperbincangkan banyak netizen. Balita dengan nama internasional Jessica Liu ini dinobatkan menjadi balita tercantik di dunia. Arti nama “Chu Tian” adalah “musim semi,” tetapi balita yang dipanggil dengan nama akrab Tian-Tian ini justru lahir di musim gugur yaitu 5 September 2009. Memang seperti kenyataannya, paras cantik dan imut Tian-Tian membuat semua orang tertarik untuk melihat aksinya. Banyak orang berpendapat, paras cantiknya itu dikarenakan ia berdarah campuran. Namun setelah ditelusuri lebih jauh, kedua orang tuanya sama-sama orang Tionghoa yang berasal dari Fujian.


Sejak kecil kedua orang tuanya sudah mengetahui bahwa Tian-Tian memiliki bakat untuk menjadi bintang. Ketika berumur 2 tahun, Tian-Tian berhasil menjuarai kompetisi selebriti cilik. Sejak saat itulah ia menjadi pusat perhatian masyarakat Tiongkok. Tian-Tian terjun sebagai artis cilik ketika berumur lima tahun. Dan hingga saat ini Tian-Tian tercatat sudah bermain dalam 5 serial telivisi di Tiongkok, dan sekali bermain di layar lebar yaitu di film Dragon Blade yang dibintangi Jackie Chan. Tak luput media iklan juga memakai dia sebagai bintangnya, totalnya kini Tian-Tian telah membintangi 8 iklan.


Balita tercantik ini semakin terkenal, foto-foto terbarunya selalu di-update di Weibo dan hingga saat ini memiliki lebih dari 720.000 follower. Tian-Tian juga terpilih untuk mempromosikan pakaian tradisional Tiongkok. Setiap negara pasti memiliki pakaian tradisionalnya tersendiri, misalnya di Indonesia yang paling terkenal adalah Kebaya. Lalu di Jepang kita mengenal Kimono. Dan pakaian yang dipakai Tian-Tian kali ini adalah pakaian tradisional dari masyarakat Han yang disebut Hanzhuang atau Hanfu. Pakaian tradisional ini sendiri sudah berusia 3000 tahun. Namun kini pakaian ini mulai tergeser oleh populernya pakaian-pakaian modern saat ini.


Hanfu biasanya hanya digunakan ketika ada upacara atau festival saja di Tiongkok. Namun sejak tahun 2003, para penggemar Hanfu mencoba untuk menjadikan pakaian ini sebagai pakaian resmi untuk suku Han. Hal ini dilakukan sebagai media promosi agar masyarakat Tiongkok masih mau menggunakan Hanfu setiap harinya. Namun sudah lebih dari satu dekade, tak banyak warga Tiongkok yang memperhatikan gerakan ini. Untuk itu, Tian-Tian yang kini menjadi pusat perhatian publik dipilih untuk mempromosikan Hanfu. Menakjubkan! Meskipun memakai pakaian tradisional, Tian-Tian masih nampak sangat cantik dan imut.


Tian-Tian bersuku Han bermarga Liu. Perlu kamu ketahui bahwa suku Han adalah suku paling mendominasi di Tiongkok. Dari sensus yang dilakukan 92% warga Tiongkok bersuku Han. Dan jika dihitung keseluruhan manusia yang ada di bumi, 19% dari mereka adalah keturunan dari suku Han. Di Indonesia sendiri terdapat lebih dari 3 juta penduduk bersuku Han. Kenapa bisa disebut suku Han? Karena suku Han sendiri terbentuk sejak hadirnya dinasti Han di Tiongkok sejak tahun 206 sebelum masehi. Jika kamu mengikuti sejarah Tiga Kerajaan, maka tiga kerajaan Shu, Wu, dan Wei itu merupakan pecahan dinasti Han. Semenjak perpecahan itu, suku Han dipimpin oleh Liu Bei, membentuk dinasti baru bernama Shu Han. Nama Han disini dikarenakan hampir seluruh pengikutnya adalah keturunan suku Han.


Selain pandai berakting di layar kamera, Tian-Tian juga pandai menari dan bernyanyi loh. Ia juga menguasai dua bahasa yaitu mandarin dan min nan (bahasa mandarin tradisional). Nah, bagaimana menurut pembaca, apakah Liu Chu Tian memang pantas menjadi balita tercantik di dunia?

March 07, 2015

Kegiatan Pria Yang Disukai Wanita


asmi.asia - Terkadang beberapa kegiatan pria dapat menarik perhatian wanita. Pernahkah terlintas dipikiran kita, sebenarnya kegiatan apa sih yang bikin wanita klepek-klepek sama kita (pria) ? Berikut ini saya melansir beberapa kegiatan pria yang berkemungkinan disukai para wanita, cekidot :

1. Olah Raga

Tidak bisa dipungkiri, sebagian besar wanita menyukai pria yang menjaga kesehatannya. Pria yang rajin olah raga akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wanita, apalagi kalo sampe si pria itu rajin membentuk bagian tubuhnya kayak di iklan L-Men, sixpack kotak enam, dijamin klepek-klepek dah.

2. Cari Nafkah

Wanita suka dengan pria yang bekerja keras demi tujuan ataupun cita-cita yang ingin dicapai pria tersebut. Wanita menyukai pria yang dapat menghasilkan pendapatan sendiri, membeli keperluannya sendiri tanpa harus bergantung dengan orang lain. Lebih suka lagi, kalo si pria dapat mentraktir si wanita dengan penghasilan hasil jerih payahnya sendiri. 

3. Presentasi dan Sosial Tinggi

Sebenarnya, wanita itu suka lho dengan pria yang tengah presentasi didepan ruangan. Tapi presentasi yang menarik perhatian ya, bukan presentasi yang biasa saja. Wanita juga menyukai kegiatan sosial pria, saat pria berinteraksi dengan masyarakat, memiliki banyak koneksi dimana-mana, wanita akan merasa pria tersebut memiliki kemampuan dalam membangun hubungan baik dengan orang sekitarnya.

4. Bernyanyi dan Bermain Alat Musik

Ini yang paling diminati banyak wanita, pria yang jago bernyanyi ataupun memainkan alat musik. Setiap alat musik memiliki daya tarik tersendiri. Seperti gitar, biola, piano, bahkan drum sekalipun. Jika pria tersebut mahir memainkannya, maka dapat dipastikan dia dapat mencuri hati si wanita. Makanya tidak sedikit fans grup band adalah wanita..

5. Mengerjakan Soal di Papan Tulis

Ini juga gak kalah banyaknya. Wanita suka pria yang pintar, makanya juara kelas itu biasanya cewenya banyak (gak semua ya). Banyak yang akan menaruh hati pada pria pintar yang berani maju kedepan kelas untuk menyelesaikan soal di papan tulis. Pria berprestasi seperti ini sangat disukai wanita.

Itulah beberapa kegiatan pria yang mungkin disukai wanita. Pada intinya, asalkan kegiatan itu positif, tidak menutup kemungkinan wanita akan menyukainya. Apapun kegiatan nya, tetap lakukan dengan ikhlas, tanpa mengharap apapun. Semangat yoo..

Alasan Mengapa Otaku Layak Dijadikan Pasangan


asmi.asia - Pernah dengar istilah "Otaku"? Ini adalah julukan yang diberikan untuk mereka yang menyukai anime dan sejenisnya. Namun tahukah kamu bahwa seorang otaku itu ternyata "spesial"? Ada beberapa hal yang ada didalam diri mereka yang tidak dimiliki orang lain secara umum. Sehingga membuat Otaku ini layak untuk dijadikan pasangan (bagi yang otaku jangan senyum-senyum sendiri ya bacanya). Berikut ini saya akan melansir beberapa alasan mengapa pencinta anime (otaku) layak untuk dijadikan pasangan. Cekidot :

1. Mereka Tidak Membosankan

Kalo pacaran sama otaku, dijamin gak akan bosan deh. Ada aja yang dibahas, baik itu cerita dalam anime yang sedang dia nonton, ataupun hal lainnya. Jika orang pada umumnya membahas masalah cinta-cinta-cinta saja saat pacaran, berbeda dengan otaku. Pembahasan mereka akan lebih bervariasi. Gak percaya? Coba aja deketin anak otaku. Ajak ngomong beberapa menit, pasti bawaannya pengen ngmong trus. (kalo pembahasannya cocok sama kamu ya). Tapi coba ngomong sama pria biasa, mungkin gak lama kamu juga bakal bosan. Karena kekurangan topik pembicaraan. Perlu dicatat, Otaku tidak cuma bisa bahas anime saja, hebatnya mereka bisa mengkondisikan pembicaraan kearah yang lebih menyenangkan. Trust it.

2. Pergaulan Mereka Terjaga

Apa yang membuat pergaulan mereka terjaga? 9 dari 10 otaku adalah mereka yang suka Home-Stay. Artinya suka berdiam diri dirumah. Bukan berarti mereka anti-social, mereka hanya lebih suka menghabiskan waktunya dirumah ketimbang jalan-jalan gak jelas keluar. Hal tersebut membuat pergaulan mereka terjaga. Mereka mungkin memiliki sedikit teman (meskipun ada juga yang punya banyak teman), namun teman mereka itu kebanyakan seperti mereka juga. Tidak yang aneh-aneh pokoknya. Rekomendasi banget dah buat kamu yang gak suka sama pasangan yang asik keluyuran. Uda saatnya kamu berpindah ke hatinya otaku (ehm)

3. Mereka Gak Gaptek

Hari gini masih punya pasangan yang gaptek? Uda saatnya ganti! (canda). Kenapa saya berani katakan sebagian besar otaku itu gak gaptek? Secara mereka sudah terlatih mendownload file-file anime. Mereka harus melalui iklan-iklan disetiap web nya, melewati beberapa tombol download palsu, bahkan melewati streaming iklan gak jelas. Ini membuat kebanyakan Otaku menjadi mahir mengoperasikan komputer/gadget/ataupun laptop. Bahkan yang lebih jagonya lagi, gak sedikit otaku yang jago nge-blog bahkan bikin blog fanshare nya sendiri. Lumayan kan bisa buat nambah penghasilan, bisa dah tu buat nraktir makan bakso.

4. Mereka Punya Banyak Cara untuk Pertahankan Hubungan

Lho, kok bisa? Inilah bedanya otaku dengan orang biasa. Kalo orang biasa mungkin pertahankan hubungan nya dengan cara-cara biasa, beda dengan otaku. Saat mereka menemui ada masalah dalam hubungannya, mungkin saat itulah dia menerapkan teori yang selama ini dipelajarinya lewat anime. Bagi kamu yang buta anime, pasti bertanya-tanya, Kok bisa? Anime kan kartun bertarung gak jelas, nyemburin api, nyemburin air, nyemburin angin. Padahal tidak. Otaku yang sebenarnya memiliki banyak koleksi anime di harddisknya. Disini mereka pasti mengambil bagian genre romance ataupun slice-of-life nya, dan menerapkannya untuk mendapatkan solusi terbaik dalam menyelesaikan masalah hubungan tersebut. Meski tidak banyak yang jago menerapkannya, setidaknya mereka tahu alasan mengapa masalah itu bisa terjadi. Dan dapat mempertahankan hubungan yang mereka rasa penting untuk dipertahankan. Saya yakin otaku tidak akan menyia-nyiakan perasaan pasangan nya.

Sudah punya pasangan? Kalo belum, kamu bisa mulai pdkt-in otaku. Dijamin gak akan nyesal dah.. Btw, teman saya otaku juga lhoo... :v

Apakah Benar Hidup Ini Tidak Adil


asmi.asia - Banyak hal dalam hidup ini yang mungkin tidak sejalan dengan keinginan kita. Sulit memang untuk menerima nya, namun apakah benar jika hidup tidak sejalan dengan keinginan kita berarti hidup ini tidak adil? Apakah hidup ini harus terus sejalan dengan kita sehingga kita dapat menerima bahwa hidup ini adil?

Kita belajar keras semalaman untuk ujian besok, saat ujian tiba, ada teman kita yang minta jawaban (nyontek) dengan kita . Kita memberinya contekan karena dia teman dekat kita, lalu saat pengumuman nilai keluar, nilai dia lah yang jauh lebih tinggi daripada nilai kita. Hidup ini tidak adil kah?

Sekilas memang terlihat tidak adil karena pada kasus diatas dia yang hanya menyontek saja bisa memperoleh nilai yang lebih tinggi daripada yang dicontek, tanpa usaha sedikitpun. Jika kita menganggapnya seperti itu, sebenarnya kita salah. Nilai, rangking, peringkat, bahkan IP tidak dapat menentukan seseorang bahwa dia sudah belajar. Semua bisa saja mendapatkan nilai bagus, bahkan tanpa belajar (contohnya seperti menyontek). Namun apakah orang yang menyontek itu mendapatkan manfaat untuk dirinya selain mendapatkan nilai bagus? Jawabannya tidak. Malahan dia akan semakin malas, karena terus bergantung dengan orang lain. Rasa mandiri nya akan hilang, dia akan terus menyontek dengan temannya. Kemampuan menalarnya pun akan terus berkurang, sehingga membuat kualitas dirinya terus berkurang.

Berbeda dengan orang yang belajar semalaman. Jika kita menulusuri lebih dalam terlepas dari nilai yang didapatkan, sebenarnya orang belajar itu telah mengembangkan dirinya menjadi lebih baik. Dia membaca, menambah wawasannya, tidak disadari dia telah menambah pelajaran baru dalam pengetahuannya. Kualitas dirinya terus meningkat, dan akan terus terlatih. Dia juga mandiri, sehingga tidak harus bergantung pada orang lain. Orang yang belajar akan menjadi kuat, dan akan terbiasa mandiri. Kemampuan nya terus terasah, rasa percaya dirinya tinggi. Dan semua itu tidak bisa dilihat dari nilai yang ditulis di rapor, KHS, atau apapun itu. Semua itu akan langsung terlihat di orangnya. Bukan dikertas.

Setelah membaca uraian diatas, lebih untung manakah?

Orang yang menyontek, yang mendapatkan nilai bagus. Namun kualitas dirinya menurun.
Atau orang yang belajar, yang mendapatkan nilai jelek. Tapi kualitas dirinya meningkat.

Apakah nilai di rapor, KHS, atau apapun itu yang kita dapatkan dari menyontek akan mengembangkan diri kita? Tidak sama sekali. Justru akan membuat kita lemah. Kita akan terus bergantung dengan orang lain, tanpa mempercayai kemampuan diri sendiri. Rasa percaya diri kita akan hilang. Tuhan sebenarnya sudah mengatur semuanya, sehingga membuat hidup ini sebenarnya adil. Kita memang tidak memperoleh nilai yang bagus, namun manfaat yang kita dapat jauh lebih berarti daripada nilai. Berbeda dengan orang yang menyontek, yang hanya mendapatkan nilai bagus, namun dirinya akan menjadi semakin buruk. Jadi, jangan lagi mengeluh bahwa hidup ini tidak adil. Sebenarnya hidup ini adil, hanya kita perlu memandangnya sedikit lebih ikhlas. :)

December 05, 2014

Kesalahan Yang Sering Orang Lakukan di Sosial Media


asmi.asia - Sosial Media / Sosmed / Media Sosial / Jejaring Sosial memang tempat yang paling menyenangkan. Banyak yang bisa kita lihat, mulai dari yang biasa sampai yang luar biasa. Dari yang normal, sampai yang abnormal. Hehe. Media sosial memang memiliki beberapa dampak positif seperti memperluas jaringan teman, mempermudah dalam berkomunikasi, dan sebagainya. Namun tahukah sobat bahwa media sosial juga memiliki dampak negatif? Selain menjadi malas berinteraksi langsung, orang yang terlalu sering bermain media sosial juga akan kehilangan kemampuannya untuk melakukan interaksi dengan orang secara langsung. Mulai dari tingkahnya yang mulai aneh, pembicaraan yang diluar sambungan, dan sebagainya. Pernah melihat orang seperti ini? Mungkin saya sendiri salah satunya. Hehe.

Bicara soal sosial media, pasti gak jauh-jauh sama yang namanya facebook. Karena facebook sendiri termasuk salah satu sosial media yang paling banyak digunakan orang pada zaman ini. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, sampai yang tua. Facebook sebenarnya sangatlah bagus jika dapat dimanfaatkan dengan baik. Contohnya untuk mencari pengunjung blog (sering saya lakukan), ataupun mempromosikan jasa yang bisa kita tawarkan untuk orang lain. Tidak jauh dari itu, facebook juga sangat dekat dengan hal-hal negatif. Contohnya seperti penyalahgunaan akun yang membuat seseorang menjadi buruk dimata orang lain. Berikut ini saya merangkum beberapa kesalahan yang sering orang lakukan di sosial media.

1. Mengupdate Status "Sendirian di Rumah"

Ini sering kita temukan diberanda facebook kita. Banyak teman-teman kita yang sering memposting status tentang keadaan rumahnya. Padahal ini sangatlah berbahaya karena dapat membuka kesempatan para kriminal dan mengundang segala bentuk kejahatan. Saya sarankan teman jangan lagi mempost status yang seperti ini : "DuuCh, s3nd1ri l9 dech di rum4h.." (perhatian : bila mata anda sakit, hubungi dokter)

2. Memberikan Password Pada "Orang yang Dicintai"

Saya pribadi tidak begitu mengerti pacaran zaman sekarang. Semua privasi harus dibuka, termasuk password akun facebook. Kalo tidak diberikan, maka pasangan akan marah dan mengancam akan mengakhiri hubungan. Menurut saya pribadi, kalo memang dia benar mencintai sobat, seharusnya dia tidak akan memaksa anda untuk membuka privasi yang memang hak pribadi sobat sepenuhnya. Jika dia memangmencintai sobat, dia tidak mungkin membahayakan sobat untuk hal seperti itu. Akibat dari pemberian password ini sendiri adalah, saat hubungan berakhir, maka si-mantan akan memiliki kesempatan untuk mengacak-ngacak isi facebook sobat. Jadi berhati-hatilah. Katakan saja bahwa ada beberapa hal privasi yang memang tidak bisa dibagikan.

3. Berkata Kasar

Perkataan adalah cerminan sifat seseorang. Jika saat mengupdate status kita sering menggunakan kata-kata yang tidak selayaknya didengarkan/dibaca/dilihat oleh orang lain, sudah sebaiknya kita hentikan. Hal itu hanya akan memperburuk pandangan orang lain kepada kita. Mungkin kita memang marah pada suatu hal, sampai kita ingin meluapkannya. Namun media sosial bukanlah tempat yang tepat. Redam amarah tersebut lewat dzikir, shalat, hingga berpuasa. Ini akan melatih kita untuk menjadi orang yang lebih sabar.

Sosial Media tidaklah berbahaya selama kita menggunakannya dengan bijak. Dari uraian diatas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa semua hal positif dan negatif dari media sosial, tergantung kita yang memutuskannya. Bukanlah orang lain, namun mulai dari diri kita sendiri. Semoga kita termasuk orang-orang yang menghargai sesama dan diri sendiri. Aamiin.

Jika sobat ingin menanggapi tentang artikel ini, sobat bisa langsung tuliskan dikolom komentar dibawah. Terima kasih sudah menyimak.

May 23, 2014

Perpisahan, atau justru pertemuan?

"I have no idea kenapa saya seolah-seolah memegang pistol ditangan"

asmi.asia - Ini adalah cerita saat acara perpisahan kelas 3 SMA yang kebetulan saya termasuk didalamnya. Sama seperti hal nya acara perpisahan sekolah lain dimana diadakannya acara pentas seni. Saya sangat suka musik dan drama, karena musik dan drama adalah seni yang sudah melekat dalam karakter orang indonesia, itu ada dalam... (bongkar). Dan sangat kebetulan sekali, saat itu saya tidak ikut serta dalam mengisi acara. Jadi cuma sekedar menghabiskan waktu dengan duduk dibangku penonton, padahal rata-rata siswa kelas 3 lain mengisi acara. :D

Kalo di SMA saya ketika itu, perpisahan terbagi menjadi dua bagian, acara resmi dan non-resmi. Acara resmi biasanya disaksikan oleh sebagian besar guru (termasuk kepala sekolah), sedangkan acara non-resmi adalah acara yang siswa bikin sendiri (biasanya tidak disaksikan guru). Acara resmi cukup menarik perhatian dengan adanya drama klasik dari siswa sendiri. Dan acara non-resmi sangat mengesankan karena ada yang bikin boyband dadakan. (saat itu masih baru populernya korea-korea-an).

Namun dibalik semua itu, apakah ini semua akan benar-benar menjadi sebuah perpisahan? Sedih memang, berpisah dengan teman yang sudah bersama selama kurun waktu 3 tahun. Senang sama-sama, pergi ke kantin sama-sama, dimarahin guru sama-sama, gak bawa PR sama-sama, sampai nyari pacar sama-sama.

Jika ditelusuri lebih lanjut, justru perpisahan saat SMA akan menjadi satu pertemuan baru ketika masuk perguruan tinggi. Perpisahan adalah batu loncat kita untuk awal pertemuan baru. Jadi, perpisahan tidak selalu berarti berpisah, atau mungkin sebagian kasus benar-benar berpisah. Kesimpulannya, tidak semua perpisahan berarti berpisah, namun ada beberapa perpisahan yang justru mempertemukan kita dengan orang-orang baik lainnya. :)

keyword : khairul asmi , khairulasmi.com , khairulasmidotcom , khairulasmi . com , khairul asmi unimal, khairulasmi , tempatnya share dan download

Misteri Terbunuhnya Satria




asmi.asia - “Teng..teng..teng..” bel istirahat berbunyi. Sebagian penghuni kelas XII IPA2 telah berhamburan keluar kelas, dan sisanya tetap memilih untuk berada di dalam kelas. Begitu pula Riri. Riri tetap tidak beranjak dari tempat duduknya. Ada sesuatu yang sedang dipikirkan gadis itu. Dia lalu melirik ke arah dua orang yang sedang asyik mengobrol, mereka adalah sahabat karibnya, Lira dan Redi, yang berada tidak jauh dari tempat duduknya. Riri mengambil secarik kertas di laci dan mulai menuliskan sesuatu.

Temui aku di tempat terlupakan dalam keheningan kabut  tepat saat jam berbunyi seperti kereta api sore ini.
-Riri-

Riri melipat kertas itu sedemikian rupa lalu memberikannya pada seorang gadis yang sedang lewat. “Tolong kau berikan kertas ini pada Lira dan Redi. Terima kasih.”

Gadis itu tersenyum lalu beranjak menuju tempat duduk Lira dan memberikan kertas tadi. Dahi Lira terlihat berkerut ketika menerima kertas itu, begitu juga dengan Redi. Beberapa saat kemudian setelah membaca pesan dari Riri, mereka saling bertatapan, lalu secara bersamaan menatap ke arah Riri seraya menganggukkan kepala. Riri membalas anggukan mereka dengan tersenyum puas.
“Mereka memang selalu bisa diandalkan.” pikir Riri

***

Tepat pukul 14.02 tiga orang remaja tadi sudah berada di depan gedung kesenian di kompleks Kantor Bupati.
“Apakah pertemuan ini ada hubungannya dengan kasus baru?” tanya Redi tak sabar. Seperti biasa, Riri hanya tersenyum penuh misteri, ciri khas yang selalu diperlihatkannya jika sedang mendapat kasus baru.
“Sudah aku duga.” Lira tersenyum senang. “Tapi kenapa kamu memilih tempat ini untuk membicarakannya? Kenapa tidak di ruang pribadimu saja?” sambung Lira penasaran.
“Hmm... Seperti yang Redi katakan, aku memang membawa kasus baru untuk kita pecahkan. Sedangkan alasanku memilih bertemu kalian di sini karena kasus itu terjadi di sini 3 hari yang lalu.”
“Tiga hari yang lalu? Apa maksudmu..”
“Yups... Kasus kematian seorang remaja yang ditemukan tewas mengenaskan di bawah lampu jalan itu.” potong Riri sambil melihat ke arah salah satu lampu jalan.
“Tapi, bukannya kasus itu sudah berhasil diungkap polisi? Dan pemuda itu sudah dipastikan tewas karna over dosis sehabis menenggak minuman keras. Orangtuanya sampai malu setengah mati anaknya meninggal dalam keadaan mabuk seperti itu.” ujar Redi bingung kenapa Riri tertarik dengan kasus yang telah usai.

“Kamu memang benar, Red. Kasusnya memang sudah dianggap tuntas oleh polisi. Namun, aku masih merasa ada kejanggalan dalam kematiannya. Sebenarnya aku mengenal pemuda itu, namanya Satria Alfiansyah. Ia pacar teman SMP ku yang bernama Cantika, mungkin kalian tak mengenalnya. Nah.. Cantika ini menghubungiku kemarin, ia tahu kita bisa membantunya mengungkap kasus ini. Ada sesuatu yang diketahui Cantika tentang kematian Satria, yang pasti Satria bukan orang yang menyukai minuman keras, bahkan tak pernah menyentuhnya.” cerita Riri panjang lebar. Lira dan Redi hanya mendengarkan dengan serius.

“Tapi, bukankah bisa saja Satria sedang depresi berat lalu meminum minuman terlarang itu?” Lira menyela. Redi hanya mengangguk menyetujui pendapat Lira.
“Ya, awalnya aku juga berpikir demikian. Tapi, kalian masih ingat pamanku Uncle Mad kan?”
“Ya, tentu saja kami mengingatnya.” jawab Redi dan Lira kompak.
“Seorang detektif swasta yang pernah memecahkan kasus pembunuhan berantai yang sangat terkenal itu kan?” sambung Lira penuh antusias.
“Yups.. Kemarin, saat aku lari pagi sekalian melihat lokasi kejadian ini aku bertemu dengannya sedang mengumpulkan barang bukti. Dia diminta untuk menyelidiki kasus ini kembali karna pihak keluarga korban merasa kurang puas dengan hasil penyelidikan yang dilakukan polisi. Tapi sayang sekali semalam tiba-tiba ia ditelpon rekan kerjanya di Inggris untuk menyelidiki kasus yang lebih serius di sana. Jadi beliau meminta kita untuk menyelidiki lebih lanjut tentang kasus ini. Karena beliau yakin kita bisa diandalkan.”

“Tapi Ri, kita masih anak SMA. Tidak mungkin pihak-pihak yang berwenang mengizinkan kita untuk langsung mengecek ke lokasi kejadian ataupun sekedar meminta data keterangan tentang kematian korban. Tidakkah kamu lupa kejadian setahun yang lalu saat kita diusir begitu saja karna dituduh mengacau?” tanya Lira agak cemas. Seperti biasa, Redi hanya menanggapinya dengan sebuah anggukan kecil.
“Tentu saja aku masih ingat. Kalian tenang saja. Kita tidak perlu menyelidiki ke lokasi kejadian, tempat otopsi, ataupun meminta data langsung pada petugas polisi yang menyelidiki. Kan sudah aku katakan bahwa pamanku sudah mengadakan penyelidikan di sini kemarin. Jadi semua barang bukti dan data-data sudah dia berikan padaku. Kita hanya perlu menganalisis data dan mencocokkan barang bukti dengan orang yang dijadikan tersangka.” jelas Riri.
“So.. Let’s do it Dets!!” seru Lira sambil melayangkan tinjunya ke udara. Riri dan Redi tersenyum senang melihat tingkah Lira yang begitu bersemangat.

***

Pukul 19.30 WIB di rumah Riri. Setelah belajar dan menyelesaikan PR, Riri langsung menuju ke ruang pribadinya yang tersembunyi di balik lemari pakaian untuk kembali melihat dan memeriksa barang bukti yang Uncle Mad berikan kemarin.
“Hmm... Di data ini sepertinya ada yang aneh.” gumam Riri sambil memegang sebuah laporan. “Aku harus memperlihatkan hal ini pada Lira dan Redi besok.” lanjutnya. Lalu dia kembali meletakkan semuanya seperti sedia kala dan segera keluar dari ruang pribadinya itu.

***

Keesokan harinya,  istirahat pertama pukul 10.00 WIB
Riri mengajak kedua sohibnya itu ke perpustakaan sekolah untuk berdiskusi, walaupun diikuti tatapan kesal dari Redi yang lupa sarapan pagi tadi.
“Ada apa, Ri ?? Aku lapar nih, tadi pagi lupa sarapan.” tanya Redi agak ketus.
“Sabar dong.. duduk dulu nih, cuma 5 menit aja kok.” bujuk Riri sambil mendudukan Redi di kursi perpustakaan. “Lira aja no comment.” sambungnya pelan, sehingga hanya Lira, yang duduk tepat di samping Riri, yang dapat mendengarnya. Lira menatapnya tersenyum.
“So, ada hal penting apa yang ingin kamu katakan pada kami, Ri?” tanya Lira penasaran. Redi mengangguk kecil, tetap dengan wajah yang ditekuk. Riri tersenyum penuh misteri.
“Begini, semalam aku memeriksa kembali barang bukti dan data yang diberikan Uncle Mad tentang kasus yang sedang kita coba pecahkan. Di salah satu halaman aku menemukan hal yang janggal. Mungkin hal itu luput dari pemeriksaan polisi kemarin. Di sana disebutkan bahwa minuman keras hanya ditemukan pada bagian mulut korban. Sedangkan pada bagian dalam organ lainnya, tidak ditemukan tanda-tanda adanya alkohol. Jadi, menurutku pendapat Cantika benar adanya. Satria memang tidak pernah menyentuh minuman berbahaya itu.”
“Jadi maksudmu, Satria memang dibunuh ? Trus kira-kira siapa saja yang kamu curigai?” tanya Redi penasaran. Dia sudah melupakan rasa laparnya.
“Hmm... Menurut laporan dan data yang ku dapat dari Uncle Mad, sudah ada 3 orang yang dicurigai. Semuanya merupakan personil bandnya Satria.”
“Band ?? Si Satria punya band?” tanya Lira ingin tahu.
“Ohh iya.. aku lupa memberitahu kalian. Satria itu gitaris sebuah band, namanya The Hole Band. Dalam band itu bergabung juga 3 orang lainnya, mereka adalah Siska Pratiwi sebagai vokalis, Ajun alias Derry Junstein sebagai drummer dan Jay alias Jainuddin sebagai pianis.”
“Ternyata Satria ini terbilang keren juga ya.” kagum Lira
“Ya, begitulah. Masing-masing dari anggota personil itu sudah ditanyai satu persatu.”
“Dan hasilnya?” tanya Redi tak sabar.
“Sabar dong Red! Aku kan belum selesai bicara.” sungut Riri agak kesal karna Redi memotong penjelasannya.
“Hehe, oke..oke.. maaf.. yaudah lanjutkan penjelasanmu.” jawab Redi cengengesan sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.
“Baiklah, hasil wawancaranya ku simpan di ruang pribadiku. Seperti yang ku katakan pada pertemuan pertama, kita akan menganalisis hasil wawancara itu. Jadi, nanti sekitar pukul 15.00 datanglah ke rumahku, kita harus menyelesaikan kasus ini secepat mungkin.” lanjut Riri.
“Baiklah. Lebih baik sekarang kita kembali ke kelas karna sekitar 5 menit lagi bel akan berbunyi.” jawab Redi. Lira yang biasanya bicara panjang lebar hanya mengangguk kecil.

***

Pukul 15.10 WIB di ruang pribadi Riri, Redi dan Lira sudah berada di sana. Mereka berdua melihat lihat barang bukti berupa gelang, botol minuman keras, dan bekas permen karet yang ditemukan di sekitar lokasi kejadian, serta file file penting yang tersusun rapi di meja bulat yang terbuat dari kaca itu.
“Coba kalian baca hasil rangkuman wawancara dengan beberapa orang tersangka ini.” Riri menyerahkan sebuah file dengan cover berwarna merah ke Redi. Redi dan Lira membaca laporan itu dengan mimik yang begitu serius. Di sana tertulis:

Siska Pratiwi (16), siswa kelas XII IPA 3 SMA TRIBUANA juga merupakan vokalis The Hole Band. Diselidiki Siska menaruh hati pada Satria sejak mereka duduk di kelas X hingga saat ini. Saat kejadian, Siska mengatakan dia sedang berada di toko kaset hingga sekitar pukul 21.00, setelah itu dia langsung pulang ke rumah. Dia sangat terkejut mengetahui kematian Satria. Bahkan, pagi-pagi sekali setelah mendapat kabar buruk itu, Siska dan kedua personil lainnya langsung datang ke tempat kejadian. Siska menangis hingga pingsan saat melihat jasad gitaris bandnya itu. Soal barang bukti yang ditemukan, Siska mengatakan bahwa gelang yang ditemukan itu adalah gelang milik Jay, sang pianis. Untuk bekas permen karet, biasanya Ajun yang suka memakan permen itu. Dan dia juga mengatakan kalau sempat melihat Ajun terlibat pembicaraan atau bisa dibilang bertengkar dengan Satria di depan tempat latihan band mereka pada sore hari sebelum kejadian.

Derry Junstein (17), biasa dipanggil Ajun, siswa kelas XII IPS SMA TRIBUANA yang merupakan drummer The Hole Band. Ajun dikenal sebagai orang yang agak sentimental, dan terkadang tidak segan segan melayangkan tinju pada orang yang membuatnya kesal.Pada saat kejadian, dia mengatakan sedang berada di warnet dekat rumahnya. Setelah dicek dengan menanyai penjaga warnet, ternyata dia memang benar berada di sana hingga sekitar pukul 20.30, (diperkirakan Satria sudah meninggal sekitar pukul 19.00-20.00 WIB). Namun, penjaga warnet mengatakan dia sempat melihat Ajun keluar dari warnet sekitar pukul 19.00 dan kembali pada pukul 19.40. Katanya, dia keluar hanya untuk membeli makanan di warung depan gang yang berjarak 2 km dari warnet. Karena pelanggan yang ingin membeli ramai, dia terpaksa menunggu hingga 30 menit di warung tersebut.  Saat ditanya tentang barang bukti dan hal yang dibicarakan Ajun dengan Satria sebelum kejadian, dia menjawab kalau dia memang terlibat pembicaraan dengan Satria sore itu. “Kami hanya memperdebatkan tentang festival band daerah minggu depan. Satria ingin membatalkan penampilan band kami di festival itu karna acaranya bertepatan dengan pelaksanaan ulangan akhir semester. Tentu saja aku, yang merasa latihan band selama ini akan sia sia, menolak keputusan Satria. Soal permen karet itu, ya aku memang senang memakan permen karet. Tapi di sini kan tempat umum, bisa saja orang yang sedang lewat membuang permen karetnya sembarangan di sana.”

Jainuddin (17), biasa dipanggil Jay, siswa kelas XII IPA SMA TRIBUANA, merupakan pianis di The Hole Band. Jay dikenal sebagai orang yang agak tertutup, ramah, dan kutu buku. Saat ditanyai, dia hanya berkata dengan ekspresi datar : “Malam itu saya memang bersama Satria di tempat latihan band kami. Tapi saya di sana hanya sekitar 30 menit, sekitar pukul 19.00 WIB saya sudah meninggalkan tempat latihan dengan Satria yang masih bermain gitar di sana . Masalah gelang itu, itu memang gelang saya. Tapi, saya telah kehilangan gelang itu seminggu yang lalu.”

Setelah selesai membaca laporannya, Lira terduduk lemas di sofa. “Sepertinya kasus ini cukup sulit. Ketiga tersangka memang sangat mencurigakan.” ucapnya kesal.
“Ya, benar kata Lira. Semuanya mencurigakan dan seperti memiliki motif tersendiri untuk membunuh Satria. Yang pertama Siska, bisa saja dia sakit hati pada Satria karna tak bisa membalas perasaannya, dan merencanakan pembunuhan denga pemikiran “Jika dia tidak bisa memiliki Satria, maka tidak ada yang bisa memiliki Satria”. Dan yang ke...”
Belum sempat Redi melanjutkan analisanya, sebuah bantal tiba-tiba mendarat tepat di wajahnya. Ternyata Lira yang telah melempar bantal itu ke arahnya.
“Hahaha analisismu ngaco’, Red! Udah kayak sinetron aja.” Lira tertawa terbahak-bahak melihat wajah Redi yang memerah, entah itu karena terkena lemparan bantal dari Lira atau mungkin karena menahan marah bercampur malu dengan ucapan Lira yang terlihat mengejek dan seenaknya saja menyalahkan serta memotong analisisnya.
“Udah..udah.. jangan bercanda dulu. Kita harus segera menyelesaikan kasus ini. Ayo Redi lanjutkan analisismu.” sela Riri menengahi.
“Hehehe maaf Red, Ri, aku ga bermaksud.” kata Lira cengengesan.
“Hhhh baiklah, aku akan melanjutkannya.” kata Redi yang sudah mulai tenang. “Menurutku, tersangka kedua, Ajun, bisa saja dia ingin membunuh Satria karna merasa Satria seenaknya sendiri mengambil keputusan untuk bandnya. Seperti yang tertulis dilaporan, Ajun ini orangnya agak sentimental, dan itu bisa menjadi motif yang kuat untuk membunuh Satria. Sedangkan Jay, dia orang yang tertutup jadi bisa saja ia membunuh dengan alasan yang tersembunyi, mana kita tahu kan. Lalu masalah gelang Jay ini juga tidak bisa kita percaya begitu saja, yang tahu gelang itu hilang atau tidak ‘kan hanya Jay, bisa saja itu hanya alibinya untuk menutupi kesalahannya. Bagaimana ?” Redi meminta tanggapan dari kedua temannya.
Riri terlihat serius memikirkan hasil analisis Redi yang dirasanya masuk akal. “Tapi aku masih merasa ada yang harus kita ketahui, Red. Bagaimana jika kita sekarang ke rumah Cantika saja. Aku perlu tambahan informasi darinya.”
Lira dan Redi hanya mengangguk setuju dengan usulan Riri. Mereka pun beranjak dan pergi ke rumah Cantika dengan menggunakan kendaraan masing-masing.

***

Mereka sampai ke rumah Cantika 15 menit kemudian. Rumah itu terlihat rindang dengan tanaman disekitarnya. Mereka memarkir motor mereka di halaman rumah Cantika, dan mengucapkan salam kepada yang empunya rumah.
Tak lama, keluarlah seorang gadis seumuran mereka dengan rambut panjang hitam sebahu yang menggunakan celana pendek dan kaos oblong hitam. Gadis itu sangat manis dengan wajah oriental dan kulit putihnya. Dialah Cantika. Mereka duduk di beranda rumah dan mulai berbincang-bincang.
“Can, kita datang kesini ingin mengetahui informasi tentang kematian Satria yang kamu katakan padaku saat itu. Kami sudah menemukan beberapa hal yang mencurigakan, sekarang kami membutuhkan keterangan darimu.” terang Riri. Cantika terdiam untuk beberapa saat, terlihat menimbang-nimbang.
“Baiklah..” Cantika memulai. “Sehari sebelum Satria ditemukan meninggal, dia menghubungiku. Dia mengatakan sedang menemui seseorang, tapi dia tak menyebutkan siapa. Dia hanya berkata bahwa orang tersebut penting baginya dan ia harus menyelesaikannya sekarang juga. Pada saat itu, samar-samar aku mendengar suara, gabungan drum dan piano. Kupikir saat itu dia sedang bersama teman bandnya. Tapi pada saat memberi keterangan, mereka semua mengatakan bahwa mereka tidak bersamanya. Hal inilah yang menggangguku, menurutku ada diantara mereka yang bersamanya malam itu.” ungkap Cantika dengan wajah yang sedih, jelas ia merasa kehilangan cintanya.
“Jadi memang ada diantara mereka pelakunya.” Lira menyuarakan pikirannya.
“Mendengar ceritamu, Aku jadi ingin pergi ke tempat latihan bandnya. Kurasa tempat itu pantas untuk diselidiki. Bagaimana ?” kata Riri meminta pendapat teman-temannya.
“Aku juga berpikiran sama denganmu, Ri. Ehhm... Bagaimana jika kita pergi sekarang saja, Cantika juga ikut bersama. Kurasa lebih cepat lebih baik.” Redi menimpali pertanyaan Riri.
“Ya, benar, aku setuju dengan kalian.” Lira mengangguk kepada keduanya. “Cantika, apakah kau bisa menemani kami sekarang?” tanyanya pada Cantika yang sedari tadi mendengarkan.
“Baiklah, aku ganti baju sebentar. Kalian tunggulah dulu.” Cantika bergegas masuk ke dalam rumah dan muncul lagi dalam 5 menit. Dia kini mengenakan celana jins hitam panjang dan kemeja putih serta cardigan hitam lengkap dengan bando putih dikepalanya. Memang cantik.
Mereka meninggalkan rumah Cantika dan berkendara menuju lokasi studio tempat The Hole Band biasa latihan, tempatnya berada di daerah Senyawan.

***

Studio latihan, pukul 17.15 WIB
Saat mereka tiba, telah ada 3 buah motor terparkir di depan studio itu. Sepertinya hari ini ada latihan band. Mereka mengetuk pintu dan mendengar pintu terbuka. Muncullah Siska, ia yang membukakan pintu bagi mereka. Dia tampak sedikit terkejut melihat Cantika dan bingung melihat kehadiran Riri, Redi, dan juga Lira.
“Cantika ?! Kamu sedang apa disini ?” tanyanya terkejut.
“Izinkan aku dan teman-temanku masuk dulu ke dalam. Boleh?” pinta Cantika pelan.
“Yaa... Boleh, silahkan masuk. Kami kebetulan sedang latihan untuk festival. Kami memutuskan mengikutinya walaupun sedang ulangan.” terang Siska menjelaskan.
Mereka masuk dan menerima pandangan bertanya-tanya dari Ajun dan Jay yang jelas-jelas tak mengerti maksud kedatangan mereka.

***

Begitu memasuki studio, mata Lira, Redi dan Riri sudah berkeliling mengamati ruangan itu. Ada beberapa instrument musik dan beberapa alat pelengkap lainnya. Ruangan ini kedap suara agar tidak mengganggu orang saat ada latihan. Sekarang barulah mereka bertemu secara langsung dengan para tersangka yang mereka curigai. Siska yang terkejut tadi, Ajun yang sepertinya kesal karena latihannya terganggu, dan Jay yang diam saja, tidak menunjukkan ekspresi tertarik.
“Ehem.. Cantika, kenapa kau kemari ? Kami sekarang sedang sibuk.” Ajun membuka pembicaraan dengan nada ketus.
“Aku menemani mereka.” Cantika menjawab singkat.
“Memang mereka siapa?” tanya Siska akhirnya, setelah beberapa saat memperhatikan ketiga sahabat itu.
“Ini Redi dan Lira.” Cantika menunjuk Redi dan Lira. “Dan ini Riri.” jelasnya memperkenalkan mereka. “Mereka temanku, aku meminta mereka menyelidiki kematian Satria.” terang Cantika.
Jay yang semula tak berekspresi mendadak terlihat gugup. Hal itu tidak luput dari pengamatan Riri.
“Kau masih belum ikhlas, ya? Kan polisi sudah menyelesaikan kasus Satria.” ujar Ajun yang terlihat tidak senang
“Aku merasa masih ada kejanggalan. Makanya aku meminta tolong pada mereka, mereka bisa membantuku dalam menyelidikinya.”
“Terserah !!” Ajun sudah telihat emosi. “Tapi jangan ganggu latihan kami dong! Kami sibuk sekarang. Lagi pula untuk apa menyelidi kemari. Mengganggu !!”
“Karena kami menduga disinilah Satria dibunuh.” Redi mengungkapkan pikirannya. Riri dan Lira mengangguk, sependapat. Sementara yang lainnya terlihat terkejut.
“Apa ? Dibunuh ? Disini ? Ngaco’ !!” ujar Ajun marah. “Jangan menyimpulkan sembarangan, tidak mungkin Satria dibunuh, dia mati karena alkohol. Dan disini ? Mana mungkin !!”
“Mungkin, bahkan sangat mungkin. Mengapa kau terlihat tidak ingin menerimanya, mungkinkah kau pelakunya?” Riri angkat bicara. Otak detektifnya tengah bekerja. Dia mencoba menganalisa.
“APA?! KAU MENUDUHKU HA ?!” Ajun sangat marah mendengar kata-kata Riri
Riri tetap tenang. “Tidak, aku kan hanya bertanya. Munginkah?”
“JANGAN MAIN-MAIN YA ! AKU TIDAK AKAN MEMBUNUHNYA ! TIDAK PENTING !” Ajun mengelak, masih dengan amarah yang menggebu.
“Bagaiman denganmu Siska? Mungkinkah jika itu dirimu?” Riri mengalihkan perhatiannya kepada Siska yang terlihat tegang.
“M-mana mungkin.. aku-aku menyayanginya, jadi mana mungkin aku membunuhnya. K-kau jangan main tuduh ya.” Siska terlihat gugup dan tegang.
“Tapi itu bisa jadi alasan juga. Kau membunuh Satria karena tidak rela ia jadi milik Cantika, itu mungkin.” Lira yang menjawab. Ia jelas tak mau ketinggalan.
“A-aku tidak akan tega..” Mata Siska mulai berkaca-kaca. “Aku memang tidak rela, tapi aku tidak akan tega.” katanya, tangisnya pun pecah. Cantika mendekat dan memeluknya.
“Lalu bagaimana denganmu Jay? Mungkinkah itu kau?” Redi bertanya kepada Jay. Jay seperti baru tersadar dari lamunan, kaget karena diajak bicara.
“Aku tak membunuhnya. Untuk apa membunuhnya, tak ada gunanya.” Ucapnya datar.
Riri yang sedari tadi berkeliling ruangan sambil mendengarkan jawaban demi jawaban berhenti sebentar untuk mengamati sesuatu. Jantungnya berdenyut lebih cepat, ia berhasil menemukan pelakunya. Ia lalu berbalik dan bicara. “ Ya ! Cukup pertanyaannya. Aku tau siapa pelakunya.” ucapnya sembari tersenyum. Semua wajah diruangan itu menatap Riri, penasaran sekaligus terkejut dengan apa yang diucapkannya.

***

“Siapa ?” Cantika yang pertama kali buka suara. Penasaran sekaligus terguncang. Kenyataan bahwa kekasihnya benar dibunuh sungguh mengguncang perasaannya.
“Yang pasti ada diantara kita saat ini, diantara kalian bertiga.” ujar Riri memulai. “Jangan dulu berbicara, dengarkan saja.” katanya ketika melihat Ajun sudah siap buka mulut.
“Pertama aku akan memulai dari barang bukti. Barang bukti yang ditemukan disekitar korban adalah botol minuman, gelang dan permen karet. Gelang itu adalah gelang milik Jay. Tapi  sudah hilang beberapa hari sebelumnya. Benar ?” tanya Riri pada Jay. Jay mengangguk.
“Permen karet, itu mengarah kepadamu Ajun. tapi seperti katamu, itu adalah tempat umum jadi wajar saja itu ada disana. Lalu botol minuman alkohol, inilah yang membuat polisi memutuskan kematiannya karena alkohol, over dosis.” terangnya. “ Tapi hasil tesnya menunjukkan keanehan, akohol hanya ditemukan didaerah mulutnya, tidak di dalam organ lainnya. Lalu Cantika mengatakan bahwa Satria menemui seseorang malam itu, disini.”
“Bagaimana kau tahu ia kesini?” tanya Siska.
“Suara, Cantika mendengar suara piano dan drum. Itu artinya disini. Karena Satria tentu hanya berkumpul untuk latihan disini.” jelasnya.
“Jadi, sudah  ketahuan siapa pelakunya?” tanya Ajun tak sabaran. Agak gugup.
“Sebentar.. ada yang belum kukatakan.” Riri berjalan mendekati piano, dibawah kaki piano. “Kalian lihat, disini terlihat lebih gelap bukan, karpet ini?” katanya.
Mata-mata itu memandang ke satu titik, memang karpet itu terlihat sedikit gelap warnanya. “Ini adalah bekas Alkohol.” lanjutnya. Mereka serta-merta menarik nafas dalam, terkejut.
“Berdasarkan penyelidikanku dan kedua temanku beberapa hari terakhir ini, kami berhasil mendapatkan informasi bahwa sebenarnya malam itu ada 3 orang disini. Ajun, Jay dan Satria. Tapi, Jay dan Ajun tidak hadir secara bersamaan. Jaylah yang pertama meninggalkan tempat latihan. Kedatangan Ajun setelah itu juga mungkin tidak diketahui oleh Jay. Menurut penduduk sekitar, ada yang melihat Ajun datang ke tempat latihan dengan membawa minuman. Ia mungkin minum-minum di sini, tentu saja bersama Satria.” Riri menghela nafas, lalu melanjutkan hasil penyelidikannya.
 “Satria menemaninya malam itu, tapi ia tak minum. Hanya menemani dengan berpura-pura minum. Dia seperti menenggak minuman, tapi hanya dikulum dimulut, tak diminumnya. Satria punya kebiasaan minum dari gelas, makanya disini Satria punya gelas khusus. Benarkan ?” tanyanya. “Ya.” jawab Cantika sambil menunjuk sebuah gelas keramik bertuliskan S.
“Seseorang telah mengoleskan racun digelas itu. Satria yang tidak mengetahuinya menuangkan sedikit alkohol ke dalamnya. Lalu meminumnya dan ambruk sesaat setelahnya. Tewas.” Riri memegang gelas itu, lalu menyemprotkan sesuatu di tepi gelas. Cantika dan Siska menegang. Tepian gelas itu berubah warna, menunjukkan bahwa ditepi gelas itu telah dioleskan racun.
“Ajun yang saat itu setengah mabuk, mencoba membangunkannya. Tapi sia-sia, Satria sudah tiada. Ajun kalut karena takut akan disalahkan, maka ia memutuskan membawa jasadnya ke tempat lain. Dengan membawa serta alkoholnya. Dia meletakkannya di tempat dimana Satria ditemukan pagi harinya. Sebenarnya, Ajun cukup lama di tempat itu. Karena ia masih sempat menghabiskan minumannya disana dan tanpa sadar membuang bekas permen karetnya.” Semua menarik nafas. Dalam.
“Tapi, pembunuhnya jelas bukan Ajun. Kaulah pembunuhnya, Jay.” Semua tersentak dan menatap Jay.
“B-benarkah itu?” tanya Cantika, meminta penjelasan. Jay hanya diam membisu.
“Dialah yang menaruh racun di gelas itu, sebelum dia pergi.” tambah Riri
“Jay, jawab !! Benarkah itu kau?” tanya Cantika, terlihat frustasi. Jay mengangguk perlahan. Tangis Cantika pecah diikuti tangisan Siska. Ajun maju mendekati Jay, “Kenapa kau lakukan itu? KENAPA ?!” tangannya telah menarik kerah baju Jay. Redi turun tangan mengamankannya.
“Aku tak mau dia membongkar rahasiaku. Aku takut padanya. Dia sering mengancamku akan membongkar rahasiaku jika aku tak menurutinya.” kata Jay akhirnya. “Aku adalah seorang pengguna narkoba, dia tahu sekitar 3 bulan lalu. Dia memerasku, memintaku membantunya secara paksa. Aku takut padanya. Dia bahkan mengambil gelangku, gelang pemberian mendiang kakakku.” Jay menarik napas.
“Tapi kenapa sampai kau bunuh?” Cantika bertanya dengan berurai air mata. Jay hanya menunduk. Terlihat jelas raut penyesalan di wajahnya.
Kasus itu pun usai. Jay menyerahkan diri kepada polisi dan mengakui perbuatannya, ia juga mengakui penggunaan obat terlarang yang dilakukannya.

***

“Terima kasih ya, karena telah menyelesaikan kasus ini. Walaupun aku menyesal tentang sikap Satria yang memeras temannya sendiri, kuharap ia sekarang dapat tenang di alam sana.” ujar Cantika kepada ketiga sahabat itu saat bertemu 2 hari kemudian.
“Ya.. kuharap juga begitu.” kata Lira menimpali.
“Tapi aku masih penasaran, Ri. Bagaimana kau tahu itu Jay, tidak ada bukti yang mengarah padanya?” tanya Redi dengan ekspresi penasaran.
“Ohh.. itu karena gelang. Tanpa sepengetahuan kalian, aku memeriksa tas Jay saat mengelilingi ruang latihan itu. Aku menemukan sebuah foto. Difoto itu ada Jay yang masih kecil dan seorang perempuan usia 18 tahunan. Gadis itulah yang mengenakan gelang yang jadi barang bukti itu. Lalu ada tulisan “My Lovely Sister, hope you happy in heaven” di figura fotonya. Selain itu, sikap Jay yang terlihat gugup saat kita mengatakan Satria dibunuh, serta alibinya yang terbilang sangat sederhana dan singkat itu jugalah yang membuatku mencurigainya.” terang Riri.
“Ternyata begitu.. karena gelang toh.” Raut paham nampak diwajah Redi.
Mereka tertawa bersama melihat wajah Redi yang lucu saat sudah memahami sesuatu.

_ TAMAT _
Ini cerpen buat tugas bahasa Indonsia bkn aku sndri tp 3 orng yg bikin :3, Aku, Dian, and Ardi.. udh dkumpulin klo ga slah sbulan yg llu xD ceritany agak gaje dan bnyk kkurangn maklum ngejar deadline (?) :v


Secret Admirer



asmi.asia - Tak bisakah kau mendengar hatiku yang slalu meneriakkan namamu?
Tak nampakkah pancaran cahaya kagum dimataku?
Yang hanya tertuju padamu
Tak bisakah sedikit saja aku menyentuh hatimu? Merasakan kehangatan yang selalu ku impikan,
Yang sedari dulu ku inginkan...

Aku dan kamu, layaknya bintang dan pohon.
Kamu adalah bintang, berada di langit yang sulit untuk dicapai.
Sedangkan aku, adalah pohon,
yang terus berusaha tumbuh agar bisa mencapai keberadaanmu.
Aku tahu, sekuat apapun, setinggi apapun usaha ku untuk menggapaimu,
 aku tak kan pernah bisa

Aku hanyalah pengagum rahasia,
mencinta dalam diam
Yang hanya mampu menyatakan suka dalam kebisingan
Hanya mampu memandang lama dirimu dalam kegelapan

“Andai rangkaian kata indah itu untukku. Andai saja insan yang kau impikan adalah aku.”

Berat rasanya memendam rasa pada seseorang yang jelas-jelas tidak memiliki rasa yang lebih terhadap kita. Hal itu pula lah yang tengah dialami oleh Dyan. Sebenarnya, Dyan menyukai Dirga, sahabat kecilnya. Tapi sayang, Dirga sudah terlanjur mencintai orang lain. Sakit. Tentu saja sakit yang dirasakan Dyan. Saat rasa sayang sebagai sahabat itu telah berubah menjadi cinta ntah sejak kapan, Dyan hanya mampu diam dan berpura-pura menjadi seorang sahabat biasa bagi Dirga. Namun, akankah Dyan mampu memendam rasa ini selamanya? Ataukah dia akan menyerah saja dan mencoba melupakan Dirga? Hal itulah yang selalu mengganjal dipikirannya. Mungkin memendam rasa lebih tepat. Toh, selama 3 tahun ini dia mampu bertahan meskipun kerap kali merasakan sesak saat mendengar curhatan Dirga tentang seorang yang ia sukai. Seperti malam ini..

“Dyan, aku harus bagaimana? Apa aku kirimkan saja semua puisi yang ku buat untuknya?”

“Hmm sebaiknya kamu nyatakan secara langsung, Ga. Jadi beranilah sedikit, setidaknya kali ini saja demi orang yang kamu cinta.” Jawab Dyan agak ketus. Berusaha memendam rasa cemburu yang seakan membakar hatinya.

“Aku inginnya juga begitu. Tapi.. Aku takut cintaku tak terbalas.”

“Takut..takut.. Dari dulu itu terus alasanmu. Penakut kamu, Ga! Masa hanya menyatakan begitu saja kamu ga berani?!” Dyan mulai emosi. Rasa sesak yang semakin memuncak di dadanya memaksa ia untuk berlaku demikian.

“Ya.. Kamu tau sendiri kan kalo aku.. aku..”

“Apa? Kamu pengecut? Oh jelas.. aku sudah tau itu dari dulu!” Dyan memalingkan wajah. Matanya sudah berkaca-kaca, siap untuk menerjunkan tetesan air dari matanya yang bulat.

“Dyan.. Maaf kalo aku udah bikin kamu kesal.” Ucap Dirga pelan sambil menyentuh bahu Dyan. Dyan menepisnya. Dirga jadi agak ngeri juga melihat tingkah Dyan yang tidak seperti biasanya itu.
Dyan tetap bergeming. Mencoba menahan agar air itu tak menetes. Tidak jika di hadapan Dirga.
 ‘Maafin aku, Ga. Aku ga bermaksud bicara seperti itu sama kamu. Aku.. Aku terlalu menyayangimu.’ Ucap Dyan dalam hati.


***

Pagi yang cerah di Kota Khatulistiwa, Pontianak. Sayangnya tak secerah wajah Dyan. Tadi malam, sepulangnya dari rumah Dirga, Dyan telah ditunggu-tunggu oleh sang mama untuk membicarakan satu hal yang sangat penting untuk masa depannya. Satu hal yang ternyata malah menambah beban pikiran gadis manis ini.
FLASHBACK...
Dyan pulang meninggalkan Dirga yang masih bingung dengan tingkah sahabatnya begitu saja. Dyan tak lagi kuat jika harus berlama-lama mendengarkan curhatan tentang “bidadari”nya Dirga. Dia tak ingin Dirga tahu bahwa dia cemburu! Bahwa dia menyayanginya! Biarlah Dirga menganggapnya telah bosan mendengar curhatan tentang “bidadari” itu. Ya siapa tau saja dengan begitu Dirga akan berhenti berbicara tentangnya. Sahabat yang jahat? Terserah sajalah toh sekarang ini Dyan menginginkan hubungan yang lebih daripada sahabat... Tanpa disadari, ternyata cinta telah berhasil membuat seorang Dyan yang penyayang menjadi egois.
Di rumah..
“Yan, cepatlah ke ruang keluarga! Mama telah menunggumu dari tadi.” Kata Aila, kakak Dyan, ketika Dyan hendak masuk ke kamar.

“Ada apa Kak? Dyan lelah, mau tidur dulu.” Dyan membuka kunci pintu kamar dan hendak masuk kalausaja tak ada sepasang tangan yang mencegahnya.

“Temui saja dulu sebentar, sepertinya ada hal penting yang ingin mama bicarakan padamu.”

Mau tidak mau Dyan pun menuruti perintah kakaknya. Dengan langkah malas, ia berjalan menuju ruang keluarga di lantai bawah.

“Ada apa Ma? Kata kak Aila mama ingin bicara denganku.” tanya Dyan sembari duduk di kursi yang berada di hadapan mamanya.

“Hmm begini Dyan, sebentar lagi kan kamu ujian akhir. Mama ingin kamu melanjutkan kuliah di Inggris. Bagaimana?”

“Di Inggris Ma? Apa tidak terlalu jauh?” Dyan kaget. Tak menyangka mama akan tega menyuruhnya melanjutkan kuliah di luar negri.

“Ya, lumayan lah daripada mama suruh kamu kuliah di kutub sana.” Jawab mama dengan senyum yang sulit diartikan.

“Hmm nanti Dyan pikir-pikir dulu ya Ma.” Balas Dyan lesu. “Dyan ke kamar dulu, capek.” Mama mengangguk. Tapi baru selangkah Dyan berjalan, Mama berbicara lagi. Membuat Dyan terpaksa menghentikan langkahnya.

“Mikirnya jangan kelamaan. Selesai ujian nanti mama ingin kamu segera memberi keputusan. Mama berharap kamu tak menolak keinginan mama. Ini demi masa depanmu juga Dyan.” Kata Mama lembut.

“Hmm iya ma..” Dyan melanjutkan jalannya menuju ke kamar.
FLASHBACK END
Dyan merasa dunia ini tak adil. Kenapa selalu memaksa ia memilih satu diantara 2 pilihan yang berat? Eh, bukankah emang ga ada yang adil di dunia ini? Keadilan itu hanya milik Tuhan!

Dyan merasakan kepalanya berdeyut. Pusing. Mungkin kelelahan memikirkan apa yang harus ia lakukan. Dyan memutuskan untuk mandi. Mungkin hal ini bisa membantu menyegarkan pikirannya.


***

Manis wajahmu selalu membayangi pikiranku

Senyum tulus yang memukau,
S’lalu terukir diingatanku
Akankah kau menjadi milikku?
Menjadi permaisuriku?
Bukan sekedar seorang yang berdiri di sampingku..


Tapi, bolehkah seorang penjaga menjadi raja?
Wajarkah aku memendam rasa?
Cinta.. Cinta..
Cinta t’lah membuatku menjadi gila
Menginginkan hal yang lebih manis daripada gula..


I love you D...

#Dirga



***

Satu lagi puisi yang berhasil ia ciptakan. Namun, akankah puisi itu bisa tersampaikan pada insan yang dimaksud? Atau hanya akan menjadi tumpukan kata di kotak rahasianya?

Dirga tengah duduk di meja belajarnya. Ia bingung. Sepertinya akhir-akhir ini Dyan sengaja menghindar darinya. Di sekolah, selalu kabur. Ditelpon, ga dijawab. Disms apalagi!

“Apa aku harus berkunjung ke rumah Dyan? Sudah lama juga aku tak ke sana. Eh, tapi tunggu.. sepertinya akan sia-sia. Dyan pasti keukeuh tak ingin menemuiku. Dyan itu agak keras kepala.” Ucap Dirga ntah pada siapa. “Mungkin saja sekarang Dyan memang lagi ingin sendiri. Toh sebentar lagi kan ujian akhir. Mungkin Dyan ingin konsen belajar. Ya, mungkin...” Dirga mencoba berpikir positif terhadap sahabatnya itu.

***

Ujian akhir telah usai. Sesuai dengan kesepakatan Dyan dan mamanya, Dyan akan memberikan keputusannya hari ini.

“Jadi gimana yan? Apa keputusanmu?” tanya Mama lembut.

“Hmm” Dyan meremas jari-jarinya. “Hmm Dyan.. Dyan akan menuruti kemauan Mama. Meski berat buat Dyan harus pisah sama Papa, Mama, dan Kak Aila..” ‘terutama sama kamu Dirga’ sambungnya dalam hati.

“Oh Dyan.. kamu memang anak Mama yang pinter.” Mama memeluk Dyan. Dyan tak membalas. Terus terang dia masih ragu dengan keputusannya. Dirga yang menjadi satu-satunya harapan untuk bisa mencegah keputusannya itu juga sudah tak kelihatan batang hidungnya semenjak ujian akhir. Dyan takut tak bisa bertemu Dirga sebelum keberangkatannya ke Inggris 2 hari lagi. Telpon? Dyan gengsi! Dia yang telah mengacuhkan Dirga duluan masa harus menghubunginya terlebih dahulu? Tapi bukankah seharusnya memang begitu? Dasar cewek..

DI SKIP...!!

***

Hari keberangkatan Dyan pun tiba. Dirga masih juga tak menampakkan batang hidungnya. Dengan langkah berat, Dyan menarik kopernya turun dari taksi menuju bandara.

“Ma, Kak Aila.. Dyan berangkat dulu ya. Doa’in Dyan semoga Dyan bisa cepat menyelesaikan kuliah di sana dan bertemu lagi dengan kalian beberapa tahun lagi.” Dyan memeluk erat mama dan kakaknya secara bergantian. Papa yang akan mengantarkan Dyan ke Inggris.

“Iya Dyan. Mama yakin kamu pasti bisa. Mama dan kakakmu akan sering-sering menelpon. Kalau lagi libur, kami akan mengunjungimu di sana.” Aila mengangguk, mengiyakan perkataan Mamanya. Mama mengusap-usap kepala Dyan. Lalu mengecup pipi kanan dan kirinya secara bergantian. Berat baginya untuk melepaskan kepergian Dyan. Tapi ini demi masa depan putrinya.

“Iya Ma. Oh iya Kak, ingat perjanjian kita semalam ya.. Jangan kasi tau ‘dia’. Dyan pamit semua.”

Aila mengangguk. ‘Pasti.. kakak pasti akan menepati janji. Kakak ga mau kamu semakin tersakiti.’ Ucapnya dalam hati. Papa dan Dyan meninggalkan Aila dan Mama yang daritadi masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Barulah saat pesawat yang dinaiki papa dan Dyan lepas landas, mereka pulang.
***

Malam harinya..

Ting tong...

Bel berbunyi di rumah Dyan. Aila, yang sedang menonton tv segera menuju ke depan untuk membuka pintu. Aila kaget. Dirga -yang kata Dyan sudah beberapa minggu ini tak menampakkan diri- datang dengan membawa seikat bunga.

“Selamat malam kak. Bisa saya bertemu dengan Dyan?” ucap Dirga ramah.

“Hmm.. masuk dulu Ga. Ada yang perlu kakak bicarakan padamu.”

Dirga mengikuti kak Aila menuju ruang tamu dan duduk di salah satu sofa.

“Hmm begini Ga.” Aila menarik napas. Dia memikirkan kata-kata yang lebih halus daripada ‘Dyan telah meninggalkan Indonesia’ agar Dirga tidak terlalu terkejut.

“Ada apa kak?” tanya Dirga penasaran. Terus terang saja sekarang perasaannya mulai tidak enak.

“Hmm.. Dyan.. Dyan melanjutkan kuliahnya di Inggris. Dan dia sudah berangkat tadi pagi.”

“Hah? Kakak serius?” Dirga kaget. Badannya lemas. Sampai-sampai bunga yang dipegangnya jatuh begitu saja ke lantai. “Tapi.. Dyan belum pamit sama aku kak. Dia juga ga bilang kalo mau kuliah di luar negri.” Ucap Dirga pelan. Dia masih tak menyangka kalau sahabatnya itu tega pergi begitu saja.
“Dyan mungkin terlalu takut untuk bilang sama kamu. Dia juga pasti ga ingin pisah sama kamu. Percaya sama kakak. Beberapa tahun lagi kalian pasti bertemu kembali.”
“Hmm yasudahlah kak. Tapi, kalo boleh aku minta nomor telponnya di sana, bisa?”
“Hmm maaf Ga. Bukannya ga boleh. Tapi kakak harap kamu ngerti kalo Dyan ke sana untuk fokus belajar. Jadi untuk sementara ini Dyan tidak bisa dihubungi.” Ucap Aila yang tentu saja dengan sedikit bumbu kebohongan.
“Iya kak aku ngerti.” Balas Dirga lemas. “Aku pamit dulu kak. Oh iya ini bunganya buat kakak saja maaf rangkaiannya udah kurang rapi.” Pamit Dirga sembari memberikan seikat bunga yang sempat terjatuh tadi.


***


#Dirga

Tiga tahun tlah berlalu.. Kemana senyum indah itu? Kemana tawa yang selalu memaksaku untuk ikut tertawa bersamamu?

Candamu, nasehatmu, wajahmu.. Aku merindukan semua itu

Merindukan kebersamaan kita.. Aku.. Aku menyayangimu Dyan..

Menyayangimu lebih dari sekedar sahabat.

Sampai saat ini, hati ini masih memuja dirimu..



Tak merasakah kau bahwa setiap kata-kata yang kurangkai itu tertuju padamu?
Hanya untukmu seorang, Dyan..
Aku memang lemah, terlalu takut untuk menerima kenyataan yang belum pasti terjadi

Aku pernah bilang padamu bahwa aku mulai mencintai seorang gadis

Seorang gadis yang memiliki senyum memukau, mata yang indah, seperti bidadari

Namun sulit untuk ku gapai

Karna dia itu KAMU! Kamu sahabatku!

Aku tahu, tak pantas untukku mencintaimu.

Aku hanya sahabatmu, dan sepertinya takdir sudah menetapkan sampai disitu

Tapi salahkah bila cinta ini menolak? Menolak takdir yang harusnya kuterima
Hati ini, raga ini, terus memaksa agar aku harus memiliki!


***


Hari ini hari kepulangan Dyan dari London, Inggris. Papa, Mama, dan Aila sedari tadi telah menunggu kedatangan Dyan di rumah. Mereka tak sabar ingin melihat penampilan putrinya yang tentu saja akan terlihat lebih dewasa dari 1 tahun yang lalu saat mereka mengunjunginya di sana. Dyan sengaja tak ingin dijemput. Dia hanya mengatakan akan tiba bersama seorang teman spesial yang harus ia kenalkan pada keluarganya.

Suhu ‘khas’ Kota Khatulistiwa langsung menyapa kulit putih seorang gadis cantik begitu ia keluar dari taksi yang membawanya dari bandara Supadio. Bersama dengan seorang pria tampan yang menggandeng tangan dan membantu membawakan kopernya, ia berjalan layaknya seorang model yang begitu mempesona. Sudah lama rasanya ia tak melihat istana yang tinggal beberapa langkah lagi akan dimasukinya itu. Istana tempatnya tumbuh bersama keluarga tercinta. Istana yang menyimpan semua kenangan yang hingga sekarang masih melekat diingatan. Namun, ada juga beberapa kenangan yang sengaja ia lupakan. Bukan karena trauma, hanya saja ia tak ingin terus-terusan hidup dengan dibayangi masa lalu yang menyakitkan.
“Papa.. Mama.. Kak Ailaa.. I’m coming..” serunya dengan senyum yang mengembang begitu membuka pintu.

“Dyan..” Mama berdiri. Dyan langsung menghambur kepelukan mamanya. Dilanjutkan dengan cipika-cipiki, lalu memeluk Papa dan Aila secara bergantian.

“Ehhm.” Terdengar deheman pelan dari seorang pemuda yang tengah berdiri di depan pintu. Menyaksikan sang gadis, kekasihnya, menguapkan rasa rindu pada keluarga.

Dyan berbalik. Menuju ke arah pemuda itu lalu menggandengnya mendekati Papa, Mama, dan Aila yang sedang tersenyum ramah, tapi juga diselingi seyum jahil.

“Pa, Ma, Kak, kenalin ini Ray. Dia hmm pacar Dyan.” Pipinya memerah saat menyebutkan kata ‘pacar’. “Dia orang Balikpapan, temen Dyan kuliah.”

“Saya Rayka Dwinara, panggil saja saya Ray.” Ucap Ray –kekasih Dyan- ramah sembari menyalami satu-persatu anggota keluarga Dyan.

Ray, seorang pemuda yang humoris, sepertinya akan cepat akrab dengan keluarga Dyan. Apalagi keluarganya memberikan ‘sinyal positif’ mengenai hubungan mereka.
***

Ting tong...

Bel rumah berbunyi tepat saat keluarga Dyan, Dyan, dan tentunya Ray sedang berada di halaman belakang. Tengah menikmati teh dan makanan ringan sambil mengobrol. Bi Inah, pembantu rumah Dyan lah yang membuka pintu.

“Eh nak Dirga. Sudah lama tidak melihat nak Dirga.”

“Iya Bi, Dirga sibuk ngurusin tugas kuliah sama bikin novel.”

“Wah, bibi pernah baca loh novelnya nak Dirga. Keren.. foto nak Dirga di sampul belakang novelnya juga lawaarr..

“Yah bibi bisa aja, itu biasa aja bi.” Jawab Dirga sambil tersenyum.

“Eh iya sih nak Dirga kan emang udah lawar dari lahir haha. Oh iya bibi lupa. Maaf, silahkan masuk. Pasti mau ketemu sama mbak Dyan ya?”

“Hehe iya Bi. Bibi tau aja. Kemarin kak Aila sms katanya Dyan akan tiba hari ini makanya saya ke sini.”
“Ciyee.. kangen ya sama mbak Dyan?” Dirga hanya membalas dengan senyuman. Tanpa disadari, semburat merah tercetak jelas di pipinya yang putih. Bi Inah hanya senyum-senyum jahil. ‘Dasar anak muda maskaran eh kasmaran’ pikirnya.
Bi Inah mempersilahkan Dirga duduk di ruang tamu.

“Mbak Dyan nya lagi di halaman belakang. Nak Dirga mau menyusul atau menunggu di sini saja biar Mbak Dyan nya bibi yang panggilin?”

“Hmm.. Biar saya saja yang ke sana. Sekalian mau ngasi kejutan buat Dyan.” Dirga tersenyum lalu berjalan menuju halaman belakang. Hatinya tak berhenti berdegup kencang. Dia penasaran bagaimana penampilan Dyan sekarang. Tambah cantikkah? Ah itu sih pasti. Tangannya merogoh saku, mencari sekotak hadiah yang akan menjadi simbol pengakuan cintanya malam ini. Hal ini telah dipersiapkannya sejak lama. Kali ini dia tak akan menjadi seorang Dirga yang pengecut lagi. Sudah lama ia menanti-nanti kesempatan ini. Hari ini, tepatnya malam ini, semuanya akan jelas. Rahasianya akan terbongkar.

‘Segala sesuatu kadang tak terjadi sesuai dengan harapan. Jika takdir sudah menentukan jalannya, tak akan ada yang bisa merubahnya.’
Tinggal selangkah lagi, saat menuju pintu yang membatasi dapur dengan halaman belakang, tiba-tiba pintu itu terbuka. Ternyata Dyan! Dia hendak mengambil minuman di lemari es. Sama seperti Dirga, Dyan tak kalah kagetnya. Oh Tuhan.. sudah berapa lama ia tak berjumpa dengan sahabat yang pernah menguasai hatinya itu. Dirga maupun Dyan saling menatap tanpa mengucap sepatah katapun. Ingin sekali Dirga langsung mendekap tubuh sang pemilik hatinya. Tapi tubuhnya kaku. Tak mampu bergerak apalagi berbicara saking gugupnya. Dyan cantik sekali! Darahnya mendesir deras dipacu sang jantung yang semakin berdegup kencang. Barulah beberapa menit kemudian, saat ia dan Dyan mulai menguasai diri, keduanya mulai membuka suara.
“Dyan..” “Dirga..” keduanya bicara bersamaan. Dirga menggaruk tengkuknya. Canggung sekali bicara dengan seseorang yang sudah lama tak bertatap muka. Apalagi seseorang itu adalah orang yang dicinta.
“Hmm Dirga, apa kabar?” Dyan tersenyum manis. Tanpa sadar senyuman itu membuat Dirga kembali terpesona.

“Hmm aku.. aku baik, kamu gimana?” balasnya dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Gugup.

“Aku juga baik. Sudah lama yaa.. jadi canggung gini hehe.”

“Hmm iya Yan, sudah 3 tahun kita ga ketemu.”

“Iya lama..” ‘untunglah 3 tahun itu cukup untukku menghapus perasaan itu, Ga.’ Sambung Dyan dalam hati. “Oh iya ayo ke halaman belakang. Papa, Mama, dan Kak  Aila juga ada di sana. Sekalian ada yang ingin ku kenalkan.” Dyan menggandeng tangan sahabatnya. Dirga yang mulanya kaget, mencoba biasa saja dengan perlakuan Dyan. Tapi hatinya tetap tak bisa dibohongi. Dia tentu saja senang sekali!

Begitu di halaman belakang, Dirga disambut ramah –seperti biasa- oleh keluarga Dyan, tak terkecuali seorang pemuda yang tadinya tengah mengobrol bersama Aila. ‘Mungkin itu pacarnya Aila’ pikir Dirga.
Setelah menyalami Papa dan Mama Dyan, Dyan mengajak Dirga berkenalan dengan pemuda tadi.

“Ray, sini. Kenalan dulu sama Dirga.” Ucap Dyan manis yang dibalas dengan senyuman yang tak kalah manisnya oleh Ray. Ray menghampiri Dirga yang berdiri di samping Dyan.

“Ray, ini Dirga Prasetya, sahabatku.”

“Oh jadi ini sahabat yang selalu kamu ceritakan padaku dulu?” tanya Ray dengan nada menggoda sambil mengedipkan sebelah matanya. Dyan yang merasa malu menginjak pelan kaki kekasihnya itu. Awas saja kalau Ray berani bilang bahwa Dyan dulu pernah menyimpan rasa pada Dirga. Ya dulu.. karna sekarang hatinya hanya milik Ray seorang.

“Ehmm” Dyan tak menggubris pertanyaan Ray yang sudah jelas tanpa ia jawab pun Ray telah mengetahuinya. “Jangan dengerin omongan Ray, Ga. Oh iya Dirga, si rambut landak ini Ray. Rayka Dwinara.” Ray dan Dirga berjabat tangan.
“Jangan dengerin nenek sihir ini, Ga. Masa gaya rambut keren gini dibilang rambut landak, ya ga, Ga? Haha.” Ray mengacak pelan rambut Dyan. Dyan memasang wajah cemberut. Dirga yang masih belum mengetahui hubungan kedua insan itu ikut hanyut dalam candaan Ray. Namun, walaupun wajahnya tertawa, hatinya tidak! Hatinya cemburu melihat Dyan dekat sekali dengan pemuda itu.
“Udah becandanya. Ayo kita makan malam dulu.” Ajak papa Dyan. “Oh iya Ray, kamu nginap di sini saja malam ini. Besok-besok saja baru cari hotel.”

“Eh iya om, kalo tidak merepotkan sih boleh saja. Apalagi kalo boleh sekamar sama anak om yang cerewet ini.” Canda Ray yang disambut jitakan Dyan di kepalanya.

“Enak aja. Nikahin dulu kalo mau sekamar.” Dyan memeletkan lidahnya. Dirga yang sedari tadi menyaksikan kedua orang itu mulai merasa ada yang tidak beres. Hatinya sekarang benar-benar terbakar api cemburu. Sebenarnya apa hubungan Dyan dan Ray? Hatinya terus bertanya.

“Yaelaah.. Mentang-mentang bentar lagi tunangan udah mulai ngomongin kamar.” Celetuk Aila. Ray dan Dyan terdiam dengan semburat merah di pipi masing-masing. Berbeda dengan Dirga yang mulai paham apa maksud Aila. Bagai tersambar petir, hatinya sakit! Pedih! mengetahui kenyataan bahwa sang pujaan hati tlah dimiliki orang lain membuat hati bahkan tubuhnya seakan hancur berkeping-keping. Inikah akhir dari semua ini? Haruskah rasa yang akan disampaikannya malam ini tertunda atau bahkan tak perlu disampaikannya lagi?

Lututnya melemas. Jika tak ada Dyan dan keluarganya mungkin dia akan membiarkan dirinya terjatuh begitu saja dilantai ubin keras itu. ‘aku harus kuat.. Ya aku harus kuat’ ucapnya berkali-kali. Dalam hati tentunya.

Setelah beberpa menit akhirnya Dirga mulai bisa menguasai diri. Aliran darah dan pacuan jantungnya mulai kembali normal. Tapi tidak dengan hatinya yang sudah terlanjur hancur!

Dengan sekuat tenaga Dirga berusaha menyembunyikan raut sedihnya. Mencoba menjadi seorang Dirga yang tegar. Setelah makan malam Dirga pun pamit pulang dengan membawa cinta yang tak bisa tersampaikan. Ditambah lagi dengan rasa sakit yang menyesakkan.

Tuhan telah menggariskan takdir bagi tiap umat-Nya. Mungkin inilah yang terbaik untuk Dirga, Dyan, dan Ray. Takdir adalah ketetapan yang tak mungkin bisa diubah oleh siapapun kecuali penentu takdir itu sendiri, Tuhan. Dirga pasrah. Dia tak mungkin merebut Dyan dari Ray. Tidak! Dia memang tak boleh melakukan itu, memisahkan kedua insan yang telah digariskan untuk bersatu. Selama ini Dirga hanya mampu menjadi pengagum rahasia. Biarlah perasaan itu ia simpan. Biarlah hanya dia dan Tuhan yang tahu. Dirga percaya, suatu saat nanti pasti ada seseorang yang telah digariskan untuk bersamanya hadir dalam kehidupannya. Seperti Ray yang telah hadir dalam kehidupan Dyan.
Cinta telah mengajarkan satu hal lagi pada mereka. PENGORBANAN. Pelajaran yang sangat berharga bagi mereka, bagi semua insan yang pernah merasakan jatuh cinta. Bagaimana cinta mengajarkan harus berkorban demi seseorang yang disayang, dan dengan cinta juga seseorang belajar bahwa tak selamanya cinta harus memiliki. Semua sudah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa, penguasa hati setiap insan.

===TAMAT===